Keterkaitan Berat Lahir Dan Panjang Badan Lahir Dengan Kejadian Stunting
Keywords:
PBL, BBLR, Stunting, Anak usia 6-24 bulanAbstract
Latar Belakang: Stunting masih menjadi permasalahan kehidupan anak saat ini yang berdampak buruk saat anak besar dan dewasa kelak. Dampak anak stunting dapat menurunkan kecerdasan sehingga dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Berat badan lahir dan panjang badan lahir diduga sebagai faktor risiko terjadinya stunting pada baduta. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan berat lahir dan panjang lahir dengan kejadian stunting. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Studi menggunakan data sekunder SSGI 2021 wilayah Provinsi Aceh. Sebagai subyek penelitian adalah anak usia 6-24 bulan yang telah dikumpulkan oleh tim SSGI 2021 wilayah Aceh dengan cara total sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi square pada CI 95%. Hasil: hasil penelitian diperoleh 36,2 % mengalami stunting, 5,7 % BBLR dan 12,9 % bayi lahir pendek. Berat bayi lahir tidak berhubungan dengan kejadian stunting (p= 0,173) sedangkan panjang bayi lahir berhubungan dengan kejadian stunting (p= 0,003). Bayi lahir pendek berpeluang 2,32 kali lebih besar mengalami stunting. Kesimpulan: ada hubungan panjang badan lahir dengan kejadian stunting anak usia 6-24 bulan. Saran: Disarankan agar dilakukan upaya penegahan stunting sejak dini dimulai pemantauan rutin status gizi ibu hamil melalui program pemeriksaan antenatal care, pemenuhan asupan gizi ibu hamil dan pemberian tablet tambah darah.







